Bengkulu Utara — Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMPN 47 Bengkulu Utara menjadi sorotan setelah ditemukan pola selisih anggaran yang identik antara Tahap I dan Tahap II dalam dua tahun berturut-turut.
Berdasarkan data realisasi 2024, Tahap I tercatat mengalami kekurangan realisasi sebesar Rp3.712.464 dari dana yang diterima. Namun pada Tahap II, justru muncul kelebihan realisasi dengan angka yang sama persis, yakni Rp3.712.464.
Fenomena serupa kembali terjadi pada 2025. Tahap I menunjukkan selisih kurang Rp579.115, sementara Tahap II mencatat kelebihan dengan nominal Rp579.115.
Kecocokan angka hingga rupiah terakhir tersebut memunculkan tanda tanya publik. Sejumlah pihak mempertanyakan apakah terjadi pergeseran pembukuan antar tahap, penyesuaian administratif, atau mekanisme koreksi internal yang belum dipaparkan secara terbuka.
Lonjakan Anggaran Perpustakaan
Sorotan juga tertuju pada fluktuasi anggaran pengembangan perpustakaan. Pada 2025 Tahap II, anggaran perpustakaan melonjak hingga Rp61,9 juta, setelah sebelumnya hanya Rp3,1 juta pada Tahap I.
Publik mempertanyakan bentuk realisasi anggaran tersebut: apakah berupa pengadaan buku dalam jumlah besar, digitalisasi sistem, atau pengadaan sarana fisik perpustakaan.
Belanja Sarpras dan Honor
Belanja pemeliharaan sarana dan prasarana juga tercatat tinggi pada periode tertentu, bahkan mendekati Rp70 juta per tahap. Sementara pembayaran honor tenaga pendidikan berkisar antara Rp47–57 juta per tahap.
Dengan jumlah guru dan tenaga kependidikan sekitar 32 orang, transparansi distribusi honor menjadi perhatian masyarakat.
Desakan Klarifikasi
Hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah belum memberikan penjelasan resmi terkait pola selisih identik antar tahap tersebut.
Masyarakat berharap adanya klarifikasi terbuka dari pihak sekolah serta pengawasan dari instansi terkait guna memastikan penggunaan dana BOS berjalan sesuai aturan dan transparan.
Perkembangan berita ini akan terus dipantau.(R01)





