BENGKULU UTARA, HR— Aroma dugaan permainan harga dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Padang Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara, mulai menjadi perhatian publik. Sebuah koperasi yang disebut-sebut berada dalam lingkar keluarga pengelola dapur MBG diduga menjadi jalur wajib pemasok bahan baku sebelum barang masuk ke dapur program pemerintah tersebut.
Lebih mengejutkan lagi, sumber yang disebut dapat dipercaya mengungkap adanya dugaan pengambilan margin cukup besar dari setiap komoditas bahan baku yang masuk melalui koperasi tersebut.
“Koperasi dapur MBG milik (IR) diduga kuat mengambil keuntungan besar pada harga satuan bahan baku. Kalau ikan dinaikkan harga setelah masuk koperasi Rp10.000 per kilogram, sayur-sayuran Rp5.000 per kilogram termasuk bahan baku lainnya,” ungkap sumber kepada wartawan Harian Rakyat Online, Jumat (23/5/2026).
Tak hanya itu, sumber juga menyebut koperasi tersebut diduga dikelola langsung oleh anak kandung pihak pengelola dapur MBG.
“Yang ngelola koperasi itu anak kandung (IR),” tambah sumber.
Jika dugaan tersebut benar, maka publik mempertanyakan apakah program MBG yang sejatinya diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat justru dijadikan ladang keuntungan melalui rantai distribusi tertutup.
Informasi yang berkembang menyebut para pemasok diduga tidak bisa langsung memasok ke dapur MBG, melainkan harus melalui koperasi tertentu terlebih dahulu. Kondisi itu memunculkan dugaan adanya monopoli jalur pasok bahan baku.
Sorotan semakin tajam setelah muncul dugaan adanya dua skema harga, yakni harga riil pembelian di lapangan dan harga dalam dokumen pengajuan anggaran.
Pada komoditas ikan misalnya, harga disebut mengalami kenaikan hingga Rp10 ribu per kilogram setelah melewati koperasi. Sementara beberapa komoditas sayuran disebut mengalami kenaikan sekitar Rp5 ribu per kilogram.
Publik kini mempertanyakan ke mana aliran selisih harga tersebut bermuara.
Awak media sebelumnya juga mendatangi bangunan yang disebut sebagai kantor operasional koperasi di wilayah Kecamatan Padang Jaya. Namun saat didatangi, bangunan tampak tertutup dan pintu utama dalam keadaan terkunci.
Kondisi tersebut memunculkan tanda tanya besar mengenai aktivitas riil koperasi yang disebut menjadi bagian penting dalam rantai pasok program MBG.
Jika koperasi hanya menjadi perantara administratif tanpa aktivitas usaha nyata seperti distribusi, gudang, atau pengelolaan logistik, maka dugaan pengambilan margin tambahan semakin sulit diabaikan.
Media ini telah mengirimkan konfirmasi kepada pihak Mitra BGN Dapur MBG Padang Jaya guna meminta penjelasan terkait berbagai informasi yang berkembang.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak terkait belum memberikan tanggapan resmi.
Catatan redaksi: Seluruh informasi dalam pemberitaan ini masih berupa hasil penelusuran awal dan keterangan sumber, sehingga tetap membutuhkan verifikasi dokumen, klarifikasi pihak terkait, serta pendalaman lanjutan agar pemberitaan tetap berimbang dan sesuai prinsip jurnalistik.(R01)





