Kadis Perindag Bengkulu Utara Angkat Bicara Soal Dugaan Margin MBG: “Harus Ada Data Pembanding”

oleh -500 Dilihat
oleh

BENGKULU UTARA, HR — Dugaan permainan harga dalam rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Padang Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara, terus menjadi perhatian publik. Setelah berkembang informasi adanya dugaan margin tambahan Rp5.000 hingga Rp10.000 per kilogram pada sejumlah bahan baku, kini pihak Dinas Perdagangan Kabupaten Bengkulu Utara ikut memberikan tanggapan.

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Bengkulu Utara, Ir. Siti Qoriah Rosydiana, mengaku belum dapat memastikan apakah harga bahan baku yang dipersoalkan tersebut tergolong mahal atau tidak. Menurutnya, komoditas yang dipermasalahkan bukan termasuk item yang masuk dalam daftar pemantauan harga rutin instansinya.

“Saya belum berani memastikan kemahalan atau tidak, karena saya tidak pernah beli dan itu juga bukan masuk daftar pantauan harga petugas kami,” ujar Ir. Siti Qoriah Rosydiana melalui pesan WhatsApp, Senin (25/5/2026).

Ia menjelaskan, pada aplikasi pemantauan harga milik Kementerian Perdagangan, komoditas yang dipersoalkan juga disebut tidak tersedia sebagai item acuan.

“Di aplikasi dari Kementerian Perdagangan memang tidak ada item itu,” katanya.

Meski demikian, Ir. Siti menilai penilaian dugaan kenaikan harga tidak dapat dilakukan secara sepihak. Menurutnya, perlu ada data pembanding agar penilaian lebih objektif.

“Kalau tidak dalam daftar pantauan, sebaiknya mereka punya data pembanding. Jadi bisa dipertimbangkan harga, kualitas, dan jarak,” tambahnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah berkembangnya dugaan adanya jalur pemasokan tertentu dalam rantai distribusi bahan pangan MBG Padang Jaya. Sebelumnya, sumber yang mengaku mengetahui alur distribusi menyebut bahan baku diduga harus melewati koperasi tertentu sebelum masuk ke dapur MBG.

Sumber itu juga menduga terdapat selisih harga setelah komoditas melewati jalur tersebut. Pada komoditas ikan misalnya, disebut mengalami kenaikan hingga Rp10.000 per kilogram, sedangkan sejumlah sayuran disebut naik sekitar Rp5.000 per kilogram.

Namun hingga kini informasi tersebut masih sebatas dugaan dan keterangan sumber yang belum diverifikasi secara menyeluruh. Belum diketahui apakah selisih tersebut merupakan margin distribusi yang wajar atau terdapat komponen lain seperti biaya transportasi, kualitas barang, penyortiran, atau mekanisme logistik tertentu.

Sorotan terhadap koperasi ini sendiri muncul di tengah panjangnya deretan polemik MBG Padang Jaya, mulai dari penghentian distribusi ke SMPN 28 Bengkulu Utara, dugaan temuan ulat dan siput pada makanan siswa SDN 089, permintaan maaf terbuka Agus Prasetyo, hingga isu kontrak dapur dan dugaan persoalan lingkungan sekitar.

Media ini sebelumnya telah mengirimkan permintaan konfirmasi kepada pihak pengelola MBG Padang Jaya. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi.(R01)