Bengkulu Utara,HR- Isu dugaan penjualan dan kematian sapi bantuan program KUBE di Kecamatan Hulu Palik kian panas. Di tengah kabar liar yang menyebar, seorang toke sapi berinisial BR yang sempat diduga sebagai pembeli justru membantah tegas. Pernyataannya memunculkan satu pertanyaan besar: jika bukan dijual, lalu ke mana sapi-sapi bantuan itu?
Gelombang kecurigaan publik mulai tak terbendung. Bantuan ternak yang seharusnya menjadi penopang ekonomi warga kini justru diselimuti kabut misteri. Informasi di lapangan menyebutkan, keberadaan sejumlah sapi KUBE tak lagi jelas, bahkan muncul kabar adanya yang mati tanpa jejak laporan resmi.
Nama BR sempat mencuat sebagai pihak yang diduga membeli sapi bantuan tersebut. Namun saat dikonfirmasi, ia langsung membantah.
“Gak pernah, bos,” ujarnya singkat.
Bantahan ini bukan akhir, justru menjadi awal dari pertanyaan yang lebih besar. Jika tidak ada transaksi, mengapa isu penjualan begitu kuat beredar? Dan jika sapi masih ada, mengapa tidak pernah ditampilkan secara terbuka kepada publik?
Kondisi ini memperlihatkan satu hal: transparansi pengelolaan KUBE di Kecamatan Hulu Palik patut dipertanyakan. Minimnya klarifikasi dari pengurus maupun pemerintah desa justru mempertebal dugaan adanya sesuatu yang ditutup-tutupi.
Sejumlah warga mulai bersuara. Mereka menilai, jika bantuan negara tidak bisa dipertanggungjawabkan secara terbuka, maka ada yang tidak beres dalam pengelolaannya.
“Kalau memang tidak dijual, tunjukkan sapinya. Kalau mati, mana laporannya?” ujar seorang warga dengan nada kesal.
Lebih jauh, publik menilai persoalan ini bukan sekadar isu biasa. Ini menyangkut akuntabilitas bantuan sosial yang menggunakan uang negara. Jika benar terjadi penyimpangan, maka aparat penegak hukum didesak untuk segera turun tangan.
Hingga kini, belum ada satu pun pihak resmi di Kecamatan Hulu Palik yang memberikan penjelasan terbuka. Sementara itu, tekanan publik terus meningkat. Satu hal yang kini menjadi sorotan: diamnya pihak terkait justru memperbesar kecurigaan.(R01)





