Revitalisasi SMK Jangan Sekadar Proyek, Tapi Harus Jadi Investasi Masa Depan

oleh -446 Dilihat
oleh

BENGKULU UTARA – Sebuah papan proyek berdiri tegak di halaman SMK 12 Bengkulu Utara, memuat angka yang tidak kecil: Rp3.426.704.000. Dana ini bersumber dari APBN 2025, diperuntukkan bagi program revitalisasi sekolah menengah kejuruan, dilaksanakan selama lima bulan dengan enam paket pekerjaan.

Sekilas, proyek ini tampak sebagai kabar baik. Pemerintah pusat dan daerah hadir untuk memperkuat pendidikan vokasi, sebuah langkah yang memang sudah lama ditunggu. Sebab, SMK seharusnya menjadi ujung tombak pencetak tenaga kerja terampil, bukan sekadar tempat menampung lulusan SMP.

Namun, sejarah pembangunan di negeri ini seringkali mengajarkan hal pahit: anggaran besar tidak selalu berbanding lurus dengan hasil yang bermutu. Tidak sedikit proyek pendidikan yang selesai dibangun hanya menjadi monumen sesaat—tembok retak, plafon bocor, fasilitas rusak sebelum sempat dimanfaatkan maksimal.

“Di titik inilah pentingnya kesadaran kolektif. Uang negara bukan milik segelintir orang, melainkan amanah rakyat. Maka, transparansi, akuntabilitas, dan kualitas pekerjaan harus menjadi roh dari setiap rupiah yang digelontorkan. Papan informasi proyek hanyalah pintu masuk. Yang lebih penting adalah keberanian publik untuk mengawal proses hingga tuntas” Ungkap salah satu pengamat pembangunan di kabupaten Bengkulu Utara (7/9/2025)

Masyarakat, media, guru, siswa, hingga dunia usaha dan industri harus mengambil peran sebagai pengawas. Jangan sampai pembangunan ini sekadar menjadi rutinitas proyek tahunan tanpa ruh perubahan. Revitalisasi sejati bukan hanya soal bangunan, melainkan soal jiwa pendidikan itu sendiri.

SMK butuh lebih dari sekadar ruang kelas baru. Mereka memerlukan peralatan praktik yang sesuai dengan perkembangan industri, kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja, dan guru yang terus ditingkatkan kompetensinya. Jika tidak, lulusan SMK akan tetap kesulitan bersaing, dan investasi miliaran rupiah akan menjadi sia-sia.

Angka Rp. 3,4 miliar bukan angka kecil bagi rakyat Bengkulu Utara. Jangan biarkan uang ini hanya menghasilkan cat tembok baru dan atap seng yang cepat karat. Ia harus menjelma menjadi investasi peradaban, yang hasilnya adalah generasi muda terampil, siap kerja, dan berdaya saing global.

Karena itu, proyek revitalisasi SMK 12 Bengkulu Utara bukan hanya urusan kontraktor atau dinas. Ini adalah tanggung jawab bersama. Kita semua pemegang saham dari masa depan pendidikan. Jika bersama-sama mengawal, maka revitalisasi bukan sekadar proyek, melainkan warisan yang hidup untuk generasi mendatang.(BM)