Harian Rakyat Online – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) mengalami peningkatan, kendati masih berada di bawah angka kasus tahun 2023. Pemerintah desa jokja baru, himbau masyarakat untuk melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) menguras menutup sarang nyamuk dan mendaur ulang barang (3M plus)

“Berdasarkan tren data kasus mingguan tahun 2024 kita lihat di daerah lain, tercatat sudah terjadi peningkatan kasus jika dibandingkan pada minggu awal bulan Januari. Saat ini sudah masuk minggu ke-9, data kasus menunjukkan peningkatan yang tajam mulai minggu ke-5, yaitu di awal bulan Februari. Kami mengimbau warga waspada dan menerapkan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) 3M (Menguras, Menutup, Mendaur Ulang) Plus (kegiatan lain yang mencegah perkembangbiakan dan gigitan nyamuk Aedes aegypti),” Ungkap kades jokja Iis Yadi 7 mei 2024.
Lebih lanjut kades jokja baru menjelaskan, “Kami terus memantau perkembangan kasus DBD di setiap wilayah Desa jokja baru, Sejauh ini baru ada satu yang mengidap serangan demam berdarah, namun untuk antisipasi agar masyarakat aman dari serangan DBD, dalam hal ini kami Pemerintah desa jogja baru tanggap akan wabah demam berdarah. Dengan memasang baliho himbauan untuk menjaga kebersihan dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN)” Jelasnya.
Kemudian, kades menyampaikan gejala yang dirasakan penderita biasanya, apabila tertular DBD, ditandai dengan demam 2–7 hari yang disertai manifestasi pendarahan, penurunan trombosit (trombositopenia), adanya hemakonsentrasi yang ditandai kebocoran plasma (peningkatan hematokrit, asitesis, efusi pleura, hipoalbuminemia), serta beberapa gejala lainnya, seperti nyeri kepala, nyeri otot dan tulang, ruam kulit atau nyeri belakang bola mata.
“Tidak semua yang terinfeksi virus dengue akan menunjukkan manifestasi DBD berat. Ada yang hanya demam ringan yang akan sembuh dengan sendirinya atau bahkan ada yang sama sekali tanpa gejala sakit (asimtomatik). Sebagian lagi menderita demam dengue saja yang tidak menimbulkan kebocoran plasma dan mengakibatkan kematian,” terangnya.
Kades menambahkan, “kelembaban yang tinggi dan meningkatnya curah hujan, berpotensi pada peningkatan vektor penular DBD, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Sehingga, perlu adanya upaya pengendalian vektor DBD secara masif dengan melibatkan peran serta seluruh aspek masyarakat pada tujuh tatanan, yakni permukiman, perkantoran, institusi pendidikan, tempat-tempat umum, tempat pengelolaan makanan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan fasilitas olahraga” tutupnya.
Penulis : Lau





