Antrian BBM Tak Kunjung Usai: Publik “Melawan Lupa” Komitmen Gubernur–Wagub Bengkulu?….!

oleh -259 Dilihat
oleh

Bengkulu — Publik kembali “melawan lupa” terhadap janji kampanye Gubernur dan Wakil Gubernur Bengkulu periode 2024–2029 yang pernah berkomitmen mengakhiri antrian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU. Video potongan debat kandidat tahun 2024 yang menyinggung persoalan antrian BBM kini viral di TikTok dan media sosial lainnya.

Dalam video yang beredar, janji pembenahan distribusi dan penertiban praktik penyimpangan BBM menjadi sorotan. Ironisnya, persoalan antrian hari ini masih terjadi di sejumlah SPBU Bengkulu, bahkan memanjang pada jam–jam tertentu.

Sejumlah komentar warganet menumpuk:

“Janji tinggal janji”

“Tahun berganti, antrian tetap menghantui”

“Malah jadi bahan candaan di TikTok”

Fenomena ini menunjukkan kekecewaan publik yang belum terjawab.

Tumpang Tindih Pengawasan, Sejumlah pemerhati menilai distribusi BBM di Provinsi Bengkulu rentan: dugaan praktik penimbunan, permainan kuota, kelebihan alokasi kendaraan luar daerah, lemahnya penegakan di lapangan.

Namun hingga kini, langkah teknis pemerintah belum terlihat signifikan.

Masalah Tahunan Tak Terselesaikan, Antrian BBM bukan persoalan baru. Selama bertahun–tahun: Sopir truk, ojek konvensional, nelayan, petani mengeluhkan dampaknya terhadap ekonomi harian. Waktu kerja terbuang, pengiriman terganggu, operasional tersendat.

Namun penanganan struktural terkesan tidak progresif, Kontras dengan Janji

Dalam panggung debat kandidat 2024, janji penataan distribusi BBM pernah dijual sebagai visi unggulan. Kini rekaman Video tersebut justru menjadi bahan candaan, memancing satire publik.

“Bengkulu harus bebas antrian,” ujar salah satu kandidat dalam potongan video — kalimat yang kini berbalik menjadi boomerang digital.

Netizen Mengarsip, Era media sosial menyulitkan publik melupakan janji: Rekaman tersimpan, unggahan terarsip, komentar tak hilang.

Mekanisme digital menjadikan politisi harus berhadapan dengan jejaknya sendiri.

Evaluasi Kebijakan Mendesak, Tanpa kebijakan, antrian akan terus menjadi ritual tahunan. Janji politik bukan sekadar retorika panggung. Ia diikat oleh: rekam jejak, kepercayaan publik, konsekuensi reputasi.

Selama antrian masih mengular, luka lama akan terus menganga, dan meme BBM Bengkulu akan terus menghantui ruang digital.(R01)