Ambruk Dini hingga Ditutup Total: Alarm Keras Proyek Jembatan Air Martan

oleh -318 Dilihat
oleh

SELUMA — Jembatan Air Martan yang baru direkonstruksi melalui anggaran tahun 2024 kini menjadi sorotan serius. Belum genap setahun sejak pengerjaan, jembatan tersebut diresmikan mengalami kerusakan signifikan hingga ambruk akhirnya ditutup total untuk seluruh akses.

Penutupan dilakukan dengan pemasangan garis pembatas (police line) di lokasi, menandakan kondisi jembatan tidak lagi layak dilintasi. Keputusan ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa kerusakan yang terjadi bersifat ringan.

Pantauan Awak media, Di lapangan, kerusakan terlihat nyata dan mengkhawatirkan. Ambruk dan Retakan besar membelah struktur beton, sebagian permukaan pecah, bahkan tulangan besi tampak terbuka. Kondisi ini menunjukkan adanya degradasi dini yang tidak lazim untuk infrastruktur yang baru dibangun.

Sebelumnya, pihak pemerintah menyebut faktor cuaca ekstrem dan derasnya arus sungai sebagai penyebab utama kerusakan. Namun, penjelasan tersebut kini menuai kritik. Infrastruktur jembatan pada dasarnya dirancang untuk menghadapi tekanan lingkungan, termasuk kondisi hidrologi ekstrem.

“Kalau hanya faktor alam, seharusnya tidak sampai separah ini, apalagi belum setahun,” ujar seorang sumber teknis.

Fakta bahwa proyek ini masih berada dalam masa pemeliharaan semakin memperkuat sorotan. Dalam praktik konstruksi, masa tersebut merupakan bentuk jaminan kualitas dari penyedia jasa. Kerusakan berat di fase ini menimbulkan dugaan adanya persoalan sejak tahap perencanaan maupun pelaksanaan.

Sejumlah indikator yang ditemukan di lokasi antara lain:

Ambruk dan Retakan vertikal pada badan jembatan, Beton pecah dan terkelupas, Tulangan besi terbuka ke permukaan

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar terkait mutu pekerjaan. Apakah spesifikasi teknis telah dipenuhi? Apakah material yang digunakan sesuai standar? Atau justru terjadi penurunan kualitas dalam proses pembangunan?

Sorotan kini tertuju pada pihak rekanan pelaksana dan konsultan pengawas proyek. Fungsi pengawasan dinilai perlu dievaluasi jika kerusakan serius dapat terjadi dalam waktu singkat tanpa terdeteksi lebih awal.

Meski pemerintah menjanjikan perbaikan, publik menilai langkah tersebut belum cukup. Diperlukan audit teknis independen dan keterbukaan informasi untuk memastikan akar persoalan benar-benar terungkap.

Kasus ini menjadi alarm keras bagi pengelolaan proyek infrastruktur. Sebab ketika jembatan baru diresmikan harus ditutup total akibat kerusakan dini, yang dipertanyakan bukan sekadar faktor alam—melainkan kualitas pekerjaan dan akuntabilitas di baliknya.(R01)